Ciptaan Sabtu Nan Cerah
Rilies Ulang By Titis
SMS gratis
Sabtu, 13 Juni 2009
Minggu, 10 Mei 2009
SIKLUS TREND MUSIK INDONESIA
SIKLUS TREND MUSIK INDONESIA
FenomenaMelihat beberapa hit tembang atau lagu yang muncul di televisi dan radio akhir-akhir ini saya jadi teringat masa-masa kejayaan penyanyi solo ketika saya masih duduk di sekolah dasar. Contoh kongkrit ketika saat ini lagu oleh anak band seperti ST 12, Kangen, Wali, Ecapede, lagu-lagu mereka yang ceria, humor dan easy listening dapat merujuk pada lagu milik Ari Wibowo, Muklas Ade Putra, Jamal Mirdad, Farid Harja Alm, Doel Sumbang dll. Kemudian lagu-lagu penyanyi solo seperti BCL, Aura Kasih, Ussy S dan banyak lagi yang lain. akan merujuk pada masa kejayaan penyanyi solo wanita masa Cicha, Maya Rumantir, Dina Mariana, Euis Darliah dll yang waktu itu juga mengharu biru. Di mana lagu-lagu seperti ini di akhir millennium 2 dan awal millennium 3 benar-benar tidak mendapat tempat di penikmat musik Indonesia. Dengan kalimat lain tahun 90 an dan awal 2000 merupakan tahun berjayanya lagu-lagu yang mengusung genre konvensional seperti Rock, Rap, Metal, Hip Metal, Jazz dan R&B, Brith Pop, Emmo, Rethro Dll yang masing-masing punya pangsa pendengar sendiri. Dan uniknya lagi masa itu band lebih terakomodir dari pada penyanyi solo. Saat ini penyanyi solo sama terakomodirnya dengan band persis sama kondisinya ketika tahun 80 an. Kita tentu mengenal Broery Pesolima Alm, Hari Mukti, Ikang Fawzi dll yang di top lagu-lagu radio dan televisi tidak kalah dengan SAS, God Bless, Gank Pegangsaan dll.
AnalisaPerputaran atau siklus seperti yang didiskripsikan di atas menurut saya ada 2 versi analisa, Yang pertama karena adanya kejenuhan dari pendengar musik dan kerinduan pada masa lampau sehigga ketika lagu- lagu yang top berdasar uraian awal terdengar langsung teringat masalampau baik dari yang sadar maupun alam bawah sadar lagu-lagu ini enak didengar, setelah sekian tahun disuguhi musik di luar “aliran” ini. Walaupun Yovi n The Nuno menulis lagu yang yang sedikit mengejek penikmat musik seperti ini katanya seperti katak dalam tempurung (dalam lirik Ku Taksuka Lagu Ini) tapi ternyata banyak kalangan pemain musik sendiri yang notabene lumayan ber skill (koresponden orang sekitar penulis) suka juga terhadap lagu2 ini. Jadi lagu-lagu ini tidak hanya dinikmati orang yang awam bermusik saja walaupun banyak yang bilang lagu kacangan. Analisa kedua karena memang sudah siklus musik seperti ini jadi berputar seperti roda yang jalan di mana satu titik bisa di atas, turun dan kembali ke atas, seperti ketika band2 70an seperti koesplus, the Mercys, Pambers, AKA dll banyak ditinggal pendengar menuju era musik humor kata orang waktu itu (di awali Ari Wibowo dengan Madu dan Racun). Kemudian muncul penyanyi melankolis diawali boomingnya lagu Antara Cinta dan Dusta milik Betharia Sonata dan seterusnya.
Prediksi
Berdasar analisa pertama penulis memprediksikan lagu lagu yang mudah top yang akan datang adalah lagu2 daur ulang yang mana sudah dirindukan kembali oleh pendengar dan masing-masing lagu daur ulang mewakili masa kecil pendengarnya tergantung kapan lagu itu pertama kali menjadi hit. Dengan syarat lagu yang di daur ulang adalah lagu yang muncul di saat penikmat musik intensif saat ini (usia 15 S/d 40 tahun) sudah dilahirkan, saat ini berarti lagu-lagu tahun 80 sampai dengan akhir 90an
Berdasar analisa kedua, karena itu memang siklus waktu, setelah kemunculan Betharia Sonata dan kawan-kawan lagu-lagu balada dan social krisis seperti milik Ebiet G. Ade, Iwan Fals, Frangki Sahilatua, Sirkus Barrock, Swami, Kantata Takwa merajai musik Indonesia. Maka masa berikut musik seperti milik mereka yang terakhir disebut, yang tanpa lirik percintaan akan mendapat hati pendengar berikutnya. karena memang itu sudah siklus.
Masalah benar tidaknya pemikiran saya silahkan anda sendiri yang menentukan he.he…. karena penulisan ini tanpa daftar pustaka, rujukan, kuisioner dan pendataan yang intensif..........
By Titis SA
FenomenaMelihat beberapa hit tembang atau lagu yang muncul di televisi dan radio akhir-akhir ini saya jadi teringat masa-masa kejayaan penyanyi solo ketika saya masih duduk di sekolah dasar. Contoh kongkrit ketika saat ini lagu oleh anak band seperti ST 12, Kangen, Wali, Ecapede, lagu-lagu mereka yang ceria, humor dan easy listening dapat merujuk pada lagu milik Ari Wibowo, Muklas Ade Putra, Jamal Mirdad, Farid Harja Alm, Doel Sumbang dll. Kemudian lagu-lagu penyanyi solo seperti BCL, Aura Kasih, Ussy S dan banyak lagi yang lain. akan merujuk pada masa kejayaan penyanyi solo wanita masa Cicha, Maya Rumantir, Dina Mariana, Euis Darliah dll yang waktu itu juga mengharu biru. Di mana lagu-lagu seperti ini di akhir millennium 2 dan awal millennium 3 benar-benar tidak mendapat tempat di penikmat musik Indonesia. Dengan kalimat lain tahun 90 an dan awal 2000 merupakan tahun berjayanya lagu-lagu yang mengusung genre konvensional seperti Rock, Rap, Metal, Hip Metal, Jazz dan R&B, Brith Pop, Emmo, Rethro Dll yang masing-masing punya pangsa pendengar sendiri. Dan uniknya lagi masa itu band lebih terakomodir dari pada penyanyi solo. Saat ini penyanyi solo sama terakomodirnya dengan band persis sama kondisinya ketika tahun 80 an. Kita tentu mengenal Broery Pesolima Alm, Hari Mukti, Ikang Fawzi dll yang di top lagu-lagu radio dan televisi tidak kalah dengan SAS, God Bless, Gank Pegangsaan dll.
AnalisaPerputaran atau siklus seperti yang didiskripsikan di atas menurut saya ada 2 versi analisa, Yang pertama karena adanya kejenuhan dari pendengar musik dan kerinduan pada masa lampau sehigga ketika lagu- lagu yang top berdasar uraian awal terdengar langsung teringat masalampau baik dari yang sadar maupun alam bawah sadar lagu-lagu ini enak didengar, setelah sekian tahun disuguhi musik di luar “aliran” ini. Walaupun Yovi n The Nuno menulis lagu yang yang sedikit mengejek penikmat musik seperti ini katanya seperti katak dalam tempurung (dalam lirik Ku Taksuka Lagu Ini) tapi ternyata banyak kalangan pemain musik sendiri yang notabene lumayan ber skill (koresponden orang sekitar penulis) suka juga terhadap lagu2 ini. Jadi lagu-lagu ini tidak hanya dinikmati orang yang awam bermusik saja walaupun banyak yang bilang lagu kacangan. Analisa kedua karena memang sudah siklus musik seperti ini jadi berputar seperti roda yang jalan di mana satu titik bisa di atas, turun dan kembali ke atas, seperti ketika band2 70an seperti koesplus, the Mercys, Pambers, AKA dll banyak ditinggal pendengar menuju era musik humor kata orang waktu itu (di awali Ari Wibowo dengan Madu dan Racun). Kemudian muncul penyanyi melankolis diawali boomingnya lagu Antara Cinta dan Dusta milik Betharia Sonata dan seterusnya.
Prediksi
Berdasar analisa pertama penulis memprediksikan lagu lagu yang mudah top yang akan datang adalah lagu2 daur ulang yang mana sudah dirindukan kembali oleh pendengar dan masing-masing lagu daur ulang mewakili masa kecil pendengarnya tergantung kapan lagu itu pertama kali menjadi hit. Dengan syarat lagu yang di daur ulang adalah lagu yang muncul di saat penikmat musik intensif saat ini (usia 15 S/d 40 tahun) sudah dilahirkan, saat ini berarti lagu-lagu tahun 80 sampai dengan akhir 90an
Berdasar analisa kedua, karena itu memang siklus waktu, setelah kemunculan Betharia Sonata dan kawan-kawan lagu-lagu balada dan social krisis seperti milik Ebiet G. Ade, Iwan Fals, Frangki Sahilatua, Sirkus Barrock, Swami, Kantata Takwa merajai musik Indonesia. Maka masa berikut musik seperti milik mereka yang terakhir disebut, yang tanpa lirik percintaan akan mendapat hati pendengar berikutnya. karena memang itu sudah siklus.
Masalah benar tidaknya pemikiran saya silahkan anda sendiri yang menentukan he.he…. karena penulisan ini tanpa daftar pustaka, rujukan, kuisioner dan pendataan yang intensif..........
By Titis SA
Selasa, 05 Mei 2009
Senin, 04 Mei 2009
DARI KAMI UNTUK ANDA
STUDIO MUSIK SA
Sewa Studio (latihan Band) : 30.000/2jam
Recording Multitrack : 50.000/jam
Sewa Sound Sistem (untuk di yogyakarta)
Format Studio : 800.000
+ sound Out 2000w : 1.300.000
+ Sound Out 5000w : 1.800.000
+ Sound Out 7500w : 2.300.000
+ sound Out 10000w : 2.800.000
sound tanpa alat band : Mulai 300.000
Menyewakan juga Lighting, Stage, Smoke Gun, dan asesoris showbiz lainnya
CP : Titis telp :0274 4477548
hunt:08122737277
Sewa Studio (latihan Band) : 30.000/2jam
Recording Multitrack : 50.000/jam
Sewa Sound Sistem (untuk di yogyakarta)
Format Studio : 800.000
+ sound Out 2000w : 1.300.000
+ Sound Out 5000w : 1.800.000
+ Sound Out 7500w : 2.300.000
+ sound Out 10000w : 2.800.000
sound tanpa alat band : Mulai 300.000
Menyewakan juga Lighting, Stage, Smoke Gun, dan asesoris showbiz lainnya
CP : Titis telp :0274 4477548
hunt:08122737277
YANG HARUS DISIAPKAN BAND SEBELUM REKAMAN
Yang Harus Disiapkan Band Sebelum Rekaman
Sering sekali saya menghadapi band yang hendak rekaman malah bingung ketika kan mulai teke record. Ini terjadi pada band2 yang baru pertama kali rekaman secara multitrack
Kebingungan dan kendala yang sering terjasi antara lain :
1. Waktu take guide durasi lagu jadi sering tidak sesuai dg apa yg telah dilatih
2. Sound- instrument yang akan digunakan
3. Hasil record banyak sekali suara yang tumpang tindih frekuensinya
4. Stamina dan mood yang tiba2 drop ketika mau take
Keempat hal tersebut adalah yang sering terjadi, sebenarnya masih banyak kendala terjadi tetapi karena yang paling umum adalah hal tersebut diatas mungkin akan banyak membantu jika teratasi.
Menjaga Stamina
Proses record walau cuma satu lagu sangat memakan waktu. Kelelahan akan mengakibatkan mood hilang dan proses record jadi berjalan tidak sesuai yang diinginkan apalagi jika semua personil menunggu di studio yg kebanyakan tidak punya tempat istirahat yang sama dengan di rumah sendiri. biasanya bagi vokalis karena take terakhir ketika take akan tampak bĂȘte dan suaranya tidak maksimal.
Aransemen yang matang
Banyak band2 baru mengaransemen seadanya langsung record. Ini mengakibatkan lagu terdengar jelek walau materinya bagus dan kebanyakan akan langsung menyalahkan operator record yang tidak becus. Ingat operator bukan pesulap yang mampu membuat lagu jadi pasti terdengar bagus. Input dari band adalah yang paling besar peranannya untuk hasil yang maksimal.
Banyak band yang tidak tahu bahwa pembagian frekuensi ( nada rendah dan nada tinggi) perlu untuk harmonisasi sebuah aransemen music sering sekali aransemen band baru membuat kunci yang sama untuk semua instrument baik di ritm, melodi dan bass
Misal mereka memainkan kunci memutar dari C-F-G-C dan semua bermain di situ biasanya satu suara clean satu distorsi dan satu lagi bas pada tingkat nada yang sama maka akan terjadi penumpukan suara yang membuat music jadi kotor dan bising serta banyak noise yang muncul.
Untuk itu perlu harmonisasi missal untuk yang clean bermain di kunci dasar (bermain di grip atas) melodi membuat lick yang lebih tinggi nadanya atau memainkan rtm di kunci bawah atau senar yang bawah saja. Sedang bas memainkan senar yang lebih tinggi akan terbentuk harminisasi yang tidak tumpang tindih.
Pastikan semua anggota band hafal benar dengan aransemen yang dibuat. Sering sekali pembuat gaid ada yangterpotong diputaran bagian lagu atau malah kebanyakan jadi membingungkan yangmaumengisi sesudahnya oinipun membuat mood jadi berantakan. Jadi pola music harus benar-diketahui sehingga memudahkan jalannya take recierd utnutk itu perlu dlatih berulang kali dan kalo perlu membuat record live dahuliu sbagai bahan evaluasi. Kemudian dipikirkan apakah sound sudah sesuai yg dinginkan dalam hal ini perlu eksplorasi sound yang lebih mendalam hingga bisa membentuk karalkter lau yang diidamkan, maka sebaiknya memang player perlu punya efek sendiri yang bisa dieksplorasi dan benar-benar dikuasi. Pencarian sound yang buru2 di studio rental sangat tidak efisien dan membuang waktu.
Jangan ragu untuk berdikusi dengan operator recording sendiri agar suasana enak ketika take. jika band benar2 siap tentu kita akan menghasilkan karya yang sesuai harapan kita. Selamat berkarya…..
Titis
Pemilik Studio Musik SA
Sering sekali saya menghadapi band yang hendak rekaman malah bingung ketika kan mulai teke record. Ini terjadi pada band2 yang baru pertama kali rekaman secara multitrack
Kebingungan dan kendala yang sering terjasi antara lain :
1. Waktu take guide durasi lagu jadi sering tidak sesuai dg apa yg telah dilatih
2. Sound- instrument yang akan digunakan
3. Hasil record banyak sekali suara yang tumpang tindih frekuensinya
4. Stamina dan mood yang tiba2 drop ketika mau take
Keempat hal tersebut adalah yang sering terjadi, sebenarnya masih banyak kendala terjadi tetapi karena yang paling umum adalah hal tersebut diatas mungkin akan banyak membantu jika teratasi.
Menjaga Stamina
Proses record walau cuma satu lagu sangat memakan waktu. Kelelahan akan mengakibatkan mood hilang dan proses record jadi berjalan tidak sesuai yang diinginkan apalagi jika semua personil menunggu di studio yg kebanyakan tidak punya tempat istirahat yang sama dengan di rumah sendiri. biasanya bagi vokalis karena take terakhir ketika take akan tampak bĂȘte dan suaranya tidak maksimal.
Aransemen yang matang
Banyak band2 baru mengaransemen seadanya langsung record. Ini mengakibatkan lagu terdengar jelek walau materinya bagus dan kebanyakan akan langsung menyalahkan operator record yang tidak becus. Ingat operator bukan pesulap yang mampu membuat lagu jadi pasti terdengar bagus. Input dari band adalah yang paling besar peranannya untuk hasil yang maksimal.
Banyak band yang tidak tahu bahwa pembagian frekuensi ( nada rendah dan nada tinggi) perlu untuk harmonisasi sebuah aransemen music sering sekali aransemen band baru membuat kunci yang sama untuk semua instrument baik di ritm, melodi dan bass
Misal mereka memainkan kunci memutar dari C-F-G-C dan semua bermain di situ biasanya satu suara clean satu distorsi dan satu lagi bas pada tingkat nada yang sama maka akan terjadi penumpukan suara yang membuat music jadi kotor dan bising serta banyak noise yang muncul.
Untuk itu perlu harmonisasi missal untuk yang clean bermain di kunci dasar (bermain di grip atas) melodi membuat lick yang lebih tinggi nadanya atau memainkan rtm di kunci bawah atau senar yang bawah saja. Sedang bas memainkan senar yang lebih tinggi akan terbentuk harminisasi yang tidak tumpang tindih.
Pastikan semua anggota band hafal benar dengan aransemen yang dibuat. Sering sekali pembuat gaid ada yangterpotong diputaran bagian lagu atau malah kebanyakan jadi membingungkan yangmaumengisi sesudahnya oinipun membuat mood jadi berantakan. Jadi pola music harus benar-diketahui sehingga memudahkan jalannya take recierd utnutk itu perlu dlatih berulang kali dan kalo perlu membuat record live dahuliu sbagai bahan evaluasi. Kemudian dipikirkan apakah sound sudah sesuai yg dinginkan dalam hal ini perlu eksplorasi sound yang lebih mendalam hingga bisa membentuk karalkter lau yang diidamkan, maka sebaiknya memang player perlu punya efek sendiri yang bisa dieksplorasi dan benar-benar dikuasi. Pencarian sound yang buru2 di studio rental sangat tidak efisien dan membuang waktu.
Jangan ragu untuk berdikusi dengan operator recording sendiri agar suasana enak ketika take. jika band benar2 siap tentu kita akan menghasilkan karya yang sesuai harapan kita. Selamat berkarya…..
Titis
Pemilik Studio Musik SA
Musik adalah Universal atau hanya buat Si Kaya Kah?
Musik adalah Universal atau hanya buat Si Kaya Kah?
Dewasa ini perkembangan musik di Indonesia begitu pesat. Sejak era Shela on Seven di akhir 90 an banyak band-band Indonesia bermunculan dan banyak sekali yang lagunya menjadi hit.
Apalagi sekarang hampir semua stasiun TV menyiarkan acara khusus buat music Indonesia. Bisa dikatakan music Indonesia benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri
Di era 80 dan 90 band2 lokal yang membawakan lagi orang lain di panggung2 didominasi band yang membawakan lagu dari luar negeri khususnya USA dan Inggris. Di studio2 musik kebanyakan juga membawakan lagu2 luar dari band yang dianggap legendaries seperti Deeppurple, lLed zeppelin, Metalilica, U2 dan lain-lainnya. Sekarang jarang kita dengar lagu luar negeri terdengar di televise atoupun diradio kecuali lagu2 lama yg bisa dikatakan lagu legend. Dipanggung2 hiburan pun hampir semua lagu dalam negeri dibawakan.
Sungguh ini merupakan hal menggembirakan bagi insan musik Indonesia. Tetapi di balik kesuksesan ini timbul tanda Tanya sampai kapan hal ini terus berklangsung.
Apalagi sekarang hampir semua stasiun TV menyiarkan acara khusus buat music Indonesia. Bisa dikatakan music Indonesia benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri
Di era 80 dan 90 band2 lokal yang membawakan lagi orang lain di panggung2 didominasi band yang membawakan lagu dari luar negeri khususnya USA dan Inggris. Di studio2 musik kebanyakan juga membawakan lagu2 luar dari band yang dianggap legendaries seperti Deeppurple, lLed zeppelin, Metalilica, U2 dan lain-lainnya. Sekarang jarang kita dengar lagu luar negeri terdengar di televise atoupun diradio kecuali lagu2 lama yg bisa dikatakan lagu legend. Dipanggung2 hiburan pun hampir semua lagu dalam negeri dibawakan.
Sungguh ini merupakan hal menggembirakan bagi insan musik Indonesia. Tetapi di balik kesuksesan ini timbul tanda Tanya sampai kapan hal ini terus berklangsung.
Para orang yang bergelut di bidang musik tentu sudah mafhum betapa besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk bermain music dengan kriteria bermain yang sungguh2
Kita mulai dari les alat music atau vocal, banyak yang ditawarkan kepada masyarakat luas pendidikan music mulai untuk usia dini sampai les untuk karaokean orangtua bahkan manula. Dan kita tahu betapa besar biaya yang harus dikeluarkan minimal untuk satu kategori alat, les privat atau kelompok rata2 seratus ribu rupiah /bulan bahkan untuk lembaga pendidikan music yang ternama bisa mencapai 400ribu bahkan jutaan tiap bulannya. Maka bagi orang yang berpenghasilan UMR ke bawah harapan untuk membuat dia atau anaknya pintar bermain musik sangat kecil iya kan…? Ini belum termasuk pembelian alat music yang bisa dikategorikan standart untuk bermain music.
Selain les apalagi jika anda ingin masuk dapur rekaman akan semakin fantastik biaya yang harus dirogoh dari kocek kantong kita. Sekarang jika music anda ingin dikenal tidak bisa lagi kita bergaya Iwan Fals dengan mengamen di jalan ataupun gaya Edi silitonga yang pernah difilmkan dengan menyanyi dari panggung ke panggung membuat anda sukses berkarir di music ketika bertemu produser dan memberi kartu nama(kisah klasik masalalu perjalanan musisi). Untuk menunjukkan music anda maka anda harus membuat semacam demo lagu ciptaan anda dan disebarkan ke radio2 , teman2 dan kalo serius lagi di bawa ke perusahaan industry rekaman yang disebut major label. Untuk membuat demo satu lagu di studio rekaman setidaknya harus merogoh kocek minimal dua ratus ribuan bahkan bisa jutaan kalo di studio rekaman ternama.
Dan ketika anda membawa demo lagu anda ke mayor label tentu aka nada itung2an dana yang harus anda keluarkan atau sharing biaya dengan mayor label konon bisa mencapai ratusan juata bahkan milyaran dengan paket2 produksi dan promosi tertentu. Kita tentu pernah mendengar beberapa tayangan ijnfotaiment seper ti syahrul Gunawan atau Uies Dahlia yang merogoh kocek 900 juta untuk membuat album mereka di mayor label. Olga yang baru2 ini mengeluarkan singel pun pernah bilan g “punya duit banyak buat apa kalo tidak buat lagu.” secara tersirat ketahuan dia mengeluarkan fulus juga untuk membuat singel yang liriknya hanya dua kata itu. Akhir- akhir ini fenomena kangen band yang katanya bakul es cendol bisa sukses ngeband. Kalo asli para personilnya miskin secara logika mungkinkah mereka mencipta dan mengaransemen lagu dengan format band komplit tanpa pergi ke studio musik. Dan bagaimana mereka membuat demo lagu yang ditawarkan ke produser… penulis tidak perlu menyimpulkan silakan para pembaca yang membuat kesimpulan sendiri.
Kita mulai dari les alat music atau vocal, banyak yang ditawarkan kepada masyarakat luas pendidikan music mulai untuk usia dini sampai les untuk karaokean orangtua bahkan manula. Dan kita tahu betapa besar biaya yang harus dikeluarkan minimal untuk satu kategori alat, les privat atau kelompok rata2 seratus ribu rupiah /bulan bahkan untuk lembaga pendidikan music yang ternama bisa mencapai 400ribu bahkan jutaan tiap bulannya. Maka bagi orang yang berpenghasilan UMR ke bawah harapan untuk membuat dia atau anaknya pintar bermain musik sangat kecil iya kan…? Ini belum termasuk pembelian alat music yang bisa dikategorikan standart untuk bermain music.
Selain les apalagi jika anda ingin masuk dapur rekaman akan semakin fantastik biaya yang harus dirogoh dari kocek kantong kita. Sekarang jika music anda ingin dikenal tidak bisa lagi kita bergaya Iwan Fals dengan mengamen di jalan ataupun gaya Edi silitonga yang pernah difilmkan dengan menyanyi dari panggung ke panggung membuat anda sukses berkarir di music ketika bertemu produser dan memberi kartu nama(kisah klasik masalalu perjalanan musisi). Untuk menunjukkan music anda maka anda harus membuat semacam demo lagu ciptaan anda dan disebarkan ke radio2 , teman2 dan kalo serius lagi di bawa ke perusahaan industry rekaman yang disebut major label. Untuk membuat demo satu lagu di studio rekaman setidaknya harus merogoh kocek minimal dua ratus ribuan bahkan bisa jutaan kalo di studio rekaman ternama.
Dan ketika anda membawa demo lagu anda ke mayor label tentu aka nada itung2an dana yang harus anda keluarkan atau sharing biaya dengan mayor label konon bisa mencapai ratusan juata bahkan milyaran dengan paket2 produksi dan promosi tertentu. Kita tentu pernah mendengar beberapa tayangan ijnfotaiment seper ti syahrul Gunawan atau Uies Dahlia yang merogoh kocek 900 juta untuk membuat album mereka di mayor label. Olga yang baru2 ini mengeluarkan singel pun pernah bilan g “punya duit banyak buat apa kalo tidak buat lagu.” secara tersirat ketahuan dia mengeluarkan fulus juga untuk membuat singel yang liriknya hanya dua kata itu. Akhir- akhir ini fenomena kangen band yang katanya bakul es cendol bisa sukses ngeband. Kalo asli para personilnya miskin secara logika mungkinkah mereka mencipta dan mengaransemen lagu dengan format band komplit tanpa pergi ke studio musik. Dan bagaimana mereka membuat demo lagu yang ditawarkan ke produser… penulis tidak perlu menyimpulkan silakan para pembaca yang membuat kesimpulan sendiri.
Hal2 yang di atas tadi dari segi insan pemain music atau pelaku industry music. Sekarang bagaimana dari penikmat music itu sendiri yang merupakan konsumen dari industry music iut sendiri. Sekarang ini penikamat music sangat diuntungkan dengfan adanatya pembajakan luar abiasa terhadap lagu2 para musisi baik dalam ataupun luar. Kita tidak perlu membeli album mereka ditoko kaset resmi untuk memperoleh koleksi lau2 dari band yang kita sukai. Cukup download dari computer teman atau membeli bajakannya yang cuam a5000an bahkan kuarang untuk mendapaytakan album mereka.bahklan denga n format MP3 kita bisa mendapatkan ratuasan lagu dari 1 keping CD. Missal anda ingigin mengoleksi semua lagu dari Peterpan misanlanya dalam satu keeping saja kita bisa beli bajakan atau sewa dipersewaan VCD anda buisa mendapatlan
Coba anda bayangkan jika pembajakan benar2 bisa terhapus dari negeri ini karean kekuatan hokum yang bnar2 dilaksanakan maka anda yuntuk memperoleh kaset album dari 1 banfd paling tidak anfa harus mengeluarkan uang 20.000 bahkan ada yang dijual 30.000 rupiah dan untuk memporoleh CD nya setidaknuya anada harus mengelkuarakan 40.000 rupoiah perkeping CD original. Ini tentu akan sangat berwat bagi masyarakat bawah yang merupakan masyarakat terbesar di negeri ini. Disini penulis merasa bagi mereka pelaku inidustri music Indonesia bisa dikatakan kalo antoi pembajakan jkalo terjadi benar bisa juga mengurangi populeritas mereka Karen kemamapuan distribusi lagi2 mereka menjaditerbatas untuk kalangan menengeah atas. Dan jika ini benar2 terjadi dan harga kaset orisinalk masih sangat mahak bagi masyarakat kebanyakan penikamat music baik pelaku, pem,ain, dan pendengar akan hanya iuntuk kalangan tertentu saja atau kalangan mereka yang kaya sajas.
Coba anda bayangkan jika pembajakan benar2 bisa terhapus dari negeri ini karean kekuatan hokum yang bnar2 dilaksanakan maka anda yuntuk memperoleh kaset album dari 1 banfd paling tidak anfa harus mengeluarkan uang 20.000 bahkan ada yang dijual 30.000 rupiah dan untuk memporoleh CD nya setidaknuya anada harus mengelkuarakan 40.000 rupoiah perkeping CD original. Ini tentu akan sangat berwat bagi masyarakat bawah yang merupakan masyarakat terbesar di negeri ini. Disini penulis merasa bagi mereka pelaku inidustri music Indonesia bisa dikatakan kalo antoi pembajakan jkalo terjadi benar bisa juga mengurangi populeritas mereka Karen kemamapuan distribusi lagi2 mereka menjaditerbatas untuk kalangan menengeah atas. Dan jika ini benar2 terjadi dan harga kaset orisinalk masih sangat mahak bagi masyarakat kebanyakan penikamat music baik pelaku, pem,ain, dan pendengar akan hanya iuntuk kalangan tertentu saja atau kalangan mereka yang kaya sajas.
Langganan:
Postingan (Atom)
