Musik adalah Universal atau hanya buat Si Kaya Kah?
Dewasa ini perkembangan musik di Indonesia begitu pesat. Sejak era Shela on Seven di akhir 90 an banyak band-band Indonesia bermunculan dan banyak sekali yang lagunya menjadi hit.
Apalagi sekarang hampir semua stasiun TV menyiarkan acara khusus buat music Indonesia. Bisa dikatakan music Indonesia benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri
Di era 80 dan 90 band2 lokal yang membawakan lagi orang lain di panggung2 didominasi band yang membawakan lagu dari luar negeri khususnya USA dan Inggris. Di studio2 musik kebanyakan juga membawakan lagu2 luar dari band yang dianggap legendaries seperti Deeppurple, lLed zeppelin, Metalilica, U2 dan lain-lainnya. Sekarang jarang kita dengar lagu luar negeri terdengar di televise atoupun diradio kecuali lagu2 lama yg bisa dikatakan lagu legend. Dipanggung2 hiburan pun hampir semua lagu dalam negeri dibawakan.
Sungguh ini merupakan hal menggembirakan bagi insan musik Indonesia. Tetapi di balik kesuksesan ini timbul tanda Tanya sampai kapan hal ini terus berklangsung.
Apalagi sekarang hampir semua stasiun TV menyiarkan acara khusus buat music Indonesia. Bisa dikatakan music Indonesia benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri
Di era 80 dan 90 band2 lokal yang membawakan lagi orang lain di panggung2 didominasi band yang membawakan lagu dari luar negeri khususnya USA dan Inggris. Di studio2 musik kebanyakan juga membawakan lagu2 luar dari band yang dianggap legendaries seperti Deeppurple, lLed zeppelin, Metalilica, U2 dan lain-lainnya. Sekarang jarang kita dengar lagu luar negeri terdengar di televise atoupun diradio kecuali lagu2 lama yg bisa dikatakan lagu legend. Dipanggung2 hiburan pun hampir semua lagu dalam negeri dibawakan.
Sungguh ini merupakan hal menggembirakan bagi insan musik Indonesia. Tetapi di balik kesuksesan ini timbul tanda Tanya sampai kapan hal ini terus berklangsung.
Para orang yang bergelut di bidang musik tentu sudah mafhum betapa besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk bermain music dengan kriteria bermain yang sungguh2
Kita mulai dari les alat music atau vocal, banyak yang ditawarkan kepada masyarakat luas pendidikan music mulai untuk usia dini sampai les untuk karaokean orangtua bahkan manula. Dan kita tahu betapa besar biaya yang harus dikeluarkan minimal untuk satu kategori alat, les privat atau kelompok rata2 seratus ribu rupiah /bulan bahkan untuk lembaga pendidikan music yang ternama bisa mencapai 400ribu bahkan jutaan tiap bulannya. Maka bagi orang yang berpenghasilan UMR ke bawah harapan untuk membuat dia atau anaknya pintar bermain musik sangat kecil iya kan…? Ini belum termasuk pembelian alat music yang bisa dikategorikan standart untuk bermain music.
Selain les apalagi jika anda ingin masuk dapur rekaman akan semakin fantastik biaya yang harus dirogoh dari kocek kantong kita. Sekarang jika music anda ingin dikenal tidak bisa lagi kita bergaya Iwan Fals dengan mengamen di jalan ataupun gaya Edi silitonga yang pernah difilmkan dengan menyanyi dari panggung ke panggung membuat anda sukses berkarir di music ketika bertemu produser dan memberi kartu nama(kisah klasik masalalu perjalanan musisi). Untuk menunjukkan music anda maka anda harus membuat semacam demo lagu ciptaan anda dan disebarkan ke radio2 , teman2 dan kalo serius lagi di bawa ke perusahaan industry rekaman yang disebut major label. Untuk membuat demo satu lagu di studio rekaman setidaknya harus merogoh kocek minimal dua ratus ribuan bahkan bisa jutaan kalo di studio rekaman ternama.
Dan ketika anda membawa demo lagu anda ke mayor label tentu aka nada itung2an dana yang harus anda keluarkan atau sharing biaya dengan mayor label konon bisa mencapai ratusan juata bahkan milyaran dengan paket2 produksi dan promosi tertentu. Kita tentu pernah mendengar beberapa tayangan ijnfotaiment seper ti syahrul Gunawan atau Uies Dahlia yang merogoh kocek 900 juta untuk membuat album mereka di mayor label. Olga yang baru2 ini mengeluarkan singel pun pernah bilan g “punya duit banyak buat apa kalo tidak buat lagu.” secara tersirat ketahuan dia mengeluarkan fulus juga untuk membuat singel yang liriknya hanya dua kata itu. Akhir- akhir ini fenomena kangen band yang katanya bakul es cendol bisa sukses ngeband. Kalo asli para personilnya miskin secara logika mungkinkah mereka mencipta dan mengaransemen lagu dengan format band komplit tanpa pergi ke studio musik. Dan bagaimana mereka membuat demo lagu yang ditawarkan ke produser… penulis tidak perlu menyimpulkan silakan para pembaca yang membuat kesimpulan sendiri.
Kita mulai dari les alat music atau vocal, banyak yang ditawarkan kepada masyarakat luas pendidikan music mulai untuk usia dini sampai les untuk karaokean orangtua bahkan manula. Dan kita tahu betapa besar biaya yang harus dikeluarkan minimal untuk satu kategori alat, les privat atau kelompok rata2 seratus ribu rupiah /bulan bahkan untuk lembaga pendidikan music yang ternama bisa mencapai 400ribu bahkan jutaan tiap bulannya. Maka bagi orang yang berpenghasilan UMR ke bawah harapan untuk membuat dia atau anaknya pintar bermain musik sangat kecil iya kan…? Ini belum termasuk pembelian alat music yang bisa dikategorikan standart untuk bermain music.
Selain les apalagi jika anda ingin masuk dapur rekaman akan semakin fantastik biaya yang harus dirogoh dari kocek kantong kita. Sekarang jika music anda ingin dikenal tidak bisa lagi kita bergaya Iwan Fals dengan mengamen di jalan ataupun gaya Edi silitonga yang pernah difilmkan dengan menyanyi dari panggung ke panggung membuat anda sukses berkarir di music ketika bertemu produser dan memberi kartu nama(kisah klasik masalalu perjalanan musisi). Untuk menunjukkan music anda maka anda harus membuat semacam demo lagu ciptaan anda dan disebarkan ke radio2 , teman2 dan kalo serius lagi di bawa ke perusahaan industry rekaman yang disebut major label. Untuk membuat demo satu lagu di studio rekaman setidaknya harus merogoh kocek minimal dua ratus ribuan bahkan bisa jutaan kalo di studio rekaman ternama.
Dan ketika anda membawa demo lagu anda ke mayor label tentu aka nada itung2an dana yang harus anda keluarkan atau sharing biaya dengan mayor label konon bisa mencapai ratusan juata bahkan milyaran dengan paket2 produksi dan promosi tertentu. Kita tentu pernah mendengar beberapa tayangan ijnfotaiment seper ti syahrul Gunawan atau Uies Dahlia yang merogoh kocek 900 juta untuk membuat album mereka di mayor label. Olga yang baru2 ini mengeluarkan singel pun pernah bilan g “punya duit banyak buat apa kalo tidak buat lagu.” secara tersirat ketahuan dia mengeluarkan fulus juga untuk membuat singel yang liriknya hanya dua kata itu. Akhir- akhir ini fenomena kangen band yang katanya bakul es cendol bisa sukses ngeband. Kalo asli para personilnya miskin secara logika mungkinkah mereka mencipta dan mengaransemen lagu dengan format band komplit tanpa pergi ke studio musik. Dan bagaimana mereka membuat demo lagu yang ditawarkan ke produser… penulis tidak perlu menyimpulkan silakan para pembaca yang membuat kesimpulan sendiri.
Hal2 yang di atas tadi dari segi insan pemain music atau pelaku industry music. Sekarang bagaimana dari penikmat music itu sendiri yang merupakan konsumen dari industry music iut sendiri. Sekarang ini penikamat music sangat diuntungkan dengfan adanatya pembajakan luar abiasa terhadap lagu2 para musisi baik dalam ataupun luar. Kita tidak perlu membeli album mereka ditoko kaset resmi untuk memperoleh koleksi lau2 dari band yang kita sukai. Cukup download dari computer teman atau membeli bajakannya yang cuam a5000an bahkan kuarang untuk mendapaytakan album mereka.bahklan denga n format MP3 kita bisa mendapatkan ratuasan lagu dari 1 keping CD. Missal anda ingigin mengoleksi semua lagu dari Peterpan misanlanya dalam satu keeping saja kita bisa beli bajakan atau sewa dipersewaan VCD anda buisa mendapatlan
Coba anda bayangkan jika pembajakan benar2 bisa terhapus dari negeri ini karean kekuatan hokum yang bnar2 dilaksanakan maka anda yuntuk memperoleh kaset album dari 1 banfd paling tidak anfa harus mengeluarkan uang 20.000 bahkan ada yang dijual 30.000 rupiah dan untuk memporoleh CD nya setidaknuya anada harus mengelkuarakan 40.000 rupoiah perkeping CD original. Ini tentu akan sangat berwat bagi masyarakat bawah yang merupakan masyarakat terbesar di negeri ini. Disini penulis merasa bagi mereka pelaku inidustri music Indonesia bisa dikatakan kalo antoi pembajakan jkalo terjadi benar bisa juga mengurangi populeritas mereka Karen kemamapuan distribusi lagi2 mereka menjaditerbatas untuk kalangan menengeah atas. Dan jika ini benar2 terjadi dan harga kaset orisinalk masih sangat mahak bagi masyarakat kebanyakan penikamat music baik pelaku, pem,ain, dan pendengar akan hanya iuntuk kalangan tertentu saja atau kalangan mereka yang kaya sajas.
Coba anda bayangkan jika pembajakan benar2 bisa terhapus dari negeri ini karean kekuatan hokum yang bnar2 dilaksanakan maka anda yuntuk memperoleh kaset album dari 1 banfd paling tidak anfa harus mengeluarkan uang 20.000 bahkan ada yang dijual 30.000 rupiah dan untuk memporoleh CD nya setidaknuya anada harus mengelkuarakan 40.000 rupoiah perkeping CD original. Ini tentu akan sangat berwat bagi masyarakat bawah yang merupakan masyarakat terbesar di negeri ini. Disini penulis merasa bagi mereka pelaku inidustri music Indonesia bisa dikatakan kalo antoi pembajakan jkalo terjadi benar bisa juga mengurangi populeritas mereka Karen kemamapuan distribusi lagi2 mereka menjaditerbatas untuk kalangan menengeah atas. Dan jika ini benar2 terjadi dan harga kaset orisinalk masih sangat mahak bagi masyarakat kebanyakan penikamat music baik pelaku, pem,ain, dan pendengar akan hanya iuntuk kalangan tertentu saja atau kalangan mereka yang kaya sajas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar